• SMA N 2 KENDAL
  • Cinta Lingkungan dan Budaya

Perempuan itu Sebagai Kanca Wingking, Macak Manak dan Masak

 

Perempuan itu Sebagai Kanca Wingking, Macak Manak dan Masak

 Oleh Dwi Syaeful Mujab, SMA Negeri 2 Kendal

Perempuan itu (kodratnya) sebagai kanca wingking, dia hanya sebagai teman yang ada dibelakang, mendukung lelakinya dan setia pada kehidupan serta pasangannya. Kanca wingking berarti teman belakang, secara kodrat sebagai perempuan Jawa, itu bukan wujud penindasan terhadap kaum perempuan, akan tetapi memang kewajiban sebagai seorang perempuan adalah dibelakang laki laki disuatu keluarga. Kanca wingking bukanlah warisan kolonial atau kolot pada masa Jawa dulu kala, yang kolot dan seakan perempuan Jawa itu hanya sebagai budak laki laki. Ungkapan kanca wingking adalah upaya sebagai tanggung jawab moral, sosial dan sosio kultural seorang perempuan dalam upaya takdim kepada lelaki (suaminya). Ada pesan moral, bahwa seorang perempuan (istri) itu swarga nunut yang artinya surganya mengikuti lelaki (suaminya).

Perempuan itu mestinya dapat melayani lelaki (suaminya) di dalam tanggungjawab menjaga keluarga. Uangkapan perempuan (Jawa) sebagai kanca wingking yang (hanya) dapat tempat di belakang peran lelaki (suaminya) adalah macak, manak dan masak. Sesungguhnya tiga pondasi dasar yang mengikat itu jika dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab dan kesadaran, maka harmonis rumah tangganya. Tiga hal dasar itu merupakan kunci sebagai pondasi yang kokoh dalam keberhasilan perempuan menjaga keutuhan keluarga, dan keberlangsungan keturunannya kelak.

Macak atau berdandan, sebagai perempuan Jawa, berdandan secara sederhana tapi tetap anggun dan elok, guna menyenangkan hati lelaki (suaminya), bukan menyenangkan lingkungan maupun lelaki lainnya. Bagaimana tidak, seorang suami Ketika pulang kerumah jumpa dengan perempuan (istrinya) yang anggun cantik layaknya perempuan Jawa, maka iklim keluargapun akan Bahagia. Tidak hanya lelakinya saja, anak anak tentu akan senang Ketika perempuan itu sebagai ibunya yang merawat mereka Nampak anggun mempesona karena pandai berdandan.

Manak merupakan istilah untuk melahirkan, yang mana kodrat perempuan itu ditakdirkan melahirkan, membesarkan dan merawat anak anak dari lelakinya. Perempuan Jawa harusnya sangat pandai dalam urusan manak, bagaimana tidak, jika perempuan Jawa itu dapat memenuhi tanggung jawabnya dengan baik, maka anak keturunan yang dihasilkanpun akan baik, terawat dan sehat. Perempuan pasti memikirkan kesehatan anaknya, sedari dalam kandungan, pola makan yang dikonsumsi dan kesehatan yang perempuan yang mengandung itu sendiri. Perempuan Jawa masa kini tentu akan mempersiapkan manak (persalinan), jarak melahirkan dan mempunyai anak dengan matang dan penuh perhitungan. Maka kodratnya perempuan agar bisa manak tentu menjadi hal utama dalam rumah tangga.

Masak adalah masak, sebagai perempuan Jawa tentu ketrampilan masak ini adalah salah satu hal wajib yang harus dipenuhi sebagai perempuan. Hal yang paling sederhana adalah bagaimana perempuan dapat meramu wedang kopi dengan takaran gula dan kopi yang pas, sehingga lelakinya sungguh menikmati kopi itu dengan gembira. Perempuan tak kalah dengan barista kafe yang ngetren itu. Pandainya perempuan dalam urusan masak tidak sekedar untuk melayani lelakinya, akan tetapi untuk merawat anak anaknya. Perempuan Jawa yang pandai dalam urusan masak, mengatur takaran bumbu rempah dan menanggalkan micin bagi masakannya, diapun memikirkan sedemikan hebatnya untuk Kesehatan dan gizi anak anaknya. Sesungguhnya bagi perempuan Jawa yang pandai masak tentu juga memikirkan masa depan anak anaknya. Kualitas gizi mempengaruhi pola dan tumbuh kembang anak anaknya.

Saya mengajak pembaca untuk berfikir terbalik dari stigma masyarakat tentang perempuan Jawa sebagai kanca wingking adalah hal yang tidak baik, bagaimana ungkapan itu akhirnya menimbukan tafsir bahwa perempuan Jawa adalah pelengkap rumah tangga sebagai tradisi paternalistik, dengan urusan dandan, anak dan makanan saja. Pola pikir kanca wingking yang mana perempuan itu sekedar bisa macak, manak dan masak, harusnya bukan hanya sekedar asal saja, akan tetapi pandai dan bertanggungjawab dalam tiga hal tersebut. Takdim kepada suami sebagai garwa (sigaraning nyawa) belahan jiwa dalam membangun rumah tangga, dan melahirkan merawat anak anak yang sehat, kuat dengan perkembangan tumbuh kembang yang baik.

Maka modernisasi, kedudukan dan relasi gender perempuan Jawa, harusnya berpegang teguh pada nilai nilai kanca wingking yang seharusnya pandai dalam hal macak, manak dan masak. Tiga hal pilar ini yang dapat menekan angka stunting saat ini. Lalu, beranikah berfikir terbuka bahwa macak, manak dan masak adalah kunci hidup dasar dan kodrat perempuan yang harus dijalani dengan sepenuh hati seorang perempuan sebagai kanca wingking…

Dwi Syaeful Mujab, S.Pd., M.Pd. yang mendapat kekancingan dari Karaton Surakarta Hadiningrat dengan gelar KRT. Cundhoko Hadinagoro, S.Pd., M.Pd. merupakan Guru Muda di SMA Negeri 2 Kendal, selain sebagai guru Bahasa Jawa, aktif juga sebagai pemerhati Bahasa dan Budaya Jawa, sedang giat giatnya meluncurkan aksi Literasi Digital Bahasa dan Aksara Jawa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Halaman Lainnya
SMANDA PUSTAKA

-

05/06/2024 14:50 - Oleh Administrator - Dilihat 83 kali
Lab Kimia

13/09/2023 14:39 - Oleh Administrator - Dilihat 112 kali
GERALINUM

12/09/2023 12:37 - Oleh Administrator - Dilihat 89 kali
Kera Sakti di Sekolah, Solusinya ? ...

  Kera Sakti di Sekolah, Solusinya ? ... Dwi Syaeful Mujab, Pegiat Bahasa Jawa SMA Negeri 2 Kendal.   Kera Sakti (Kekerasan Seksual Semakin Tinggi) di sekolah, terbukti denga

30/05/2023 18:33 - Oleh Administrator - Dilihat 731 kali
Sumpil Manak di Angkringan Mas percil

Sumpil Manak di Angkringan Mas Percil Sebagai Sarana “meng” Edukasi Kependudukan   Oleh : Dwi Syaeful Mujab, S.Pd., M.Pd. SMA Negeri 2 Kendal   Ketika mendengar k

30/05/2023 17:50 - Oleh Administrator - Dilihat 847 kali